Kota Perbaungan & Terciptanya Makanan Khas Sumatera Utara

Perbaungan merupakan salah satu kota yang berada di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara. Di balik perkembangannya sebagai kawasan perkotaan, Perbaungan menyimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang. Sejumlah bangunan bersejarah masih menjadi bagian dari kawasan ini, ada beberapa di antaranya memiliki kaitan dengan masa Kesultanan Serdang dan pemerintahan kolonial Belanda. Ada bangunan yang telah mengalami perbaikan, namun sebagian lainnya masih memerlukan perhatian dan perawatan agar jejak sejarahnya tetap terjaga.

Kisah Kota Perbaungan & Sejarah Terciptanya Makanan Khas Sumatera Utara
Kisah Kota Perbaungan & Sejarah Terciptanya Makanan Khas Sumatera Utara

Memmbahas sejarah Perbaungan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Kesultanan Serdang. Kesultanan ini muncul setelah terjadi konflik perebutan kekuasaan di Kesultanan Deli sekitar tahun 1723. Perselisihan tersebut bermula setelah Tuanku Panglima Paderap, yang dikenal sebagai pendiri Kesultanan Deli, meninggalkan masalah mengenai pewaris takhta. Tuanku Gandar Wahid, putra kedua, mengambil alih tahta yang seharusnya menjadi hak Tuanku Umar.

Akibat konflik tersebut, Tuanku Umar bersama ibunya, Tuanku Puan Sampali, meninggalkan Sampali. Mereka kemudian mendirikan sebuah organisasi yang dikenal sebagai Kampung Besar atau Serdang. Dari dimulainya perjalanan awal Kesultanan Serdang berkembang. Kesultanan Serdang kemudian semakin menunjukkan perkembangan ketika Tuanku Ainan Djohan Alamsjah naik takhta menggantikan ayahnya. Wilayah kekuasaan kerajaan pun semakin luas hingga mencakup Percut dan Serdang Hulu.

Perbaungan Berdiri Berdiri pada Abad ke-18

Perbaungan diperkirakan didirikan sekitar tahun 1724 oleh Panglima Sultan Abdul Djalil Rachmatsyah. Tokoh tersebut kemudian dikenal sebagai Sultan Kerajaan Perbaungan. Nama Perbaungan sendiri memiliki cerita tersendiri. Berdasarkan informasi yang berkembang secara lisan, nama tersebut berasal dari kata dasar “baung”, yaitu nama salah satu jenis ikan air tawar.

Pada masa lalu, kawasan Perbaungan disebut memiliki populasi ikan baung yang cukup banyak. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu ciri khas wilayah dan dipercaya menjadi asal-usul nama Perbaungan.

Hubungan Perbaungan dengan Kesultanan Serdang

Bergabungnya Perbaungan dengan Kesultanan Serdang bukan terjadi karena penaklukan atau serangan militer. Hubungan kedua kerajaan justru berkembang melalui hubungan kekeluargaan dan perkawinan.

Dalam perjalanan sejarah Kesultanan Serdang, hubungan perkawinan dengan berbagai kerajaan dan kelompok masyarakat turut memperkuat hubungan politik sekaligus sosial. Perkawinan tersebut terjadi dalam beberapa generasi keluarga Kesultanan Serdang. Hubungan antarkerajaan seperti ini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan kekuasaan Melayu di wilayah Sumatera Timur pada masa tersebut.

Perpindahan Pusat Pemerintahan ke Perbaungan

Pada awalnya, pusat pemerintahan Kesultanan Serdang berada di Rantau Panjang. Namun, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pusat pemerintahan Kesultanan Serdang sempat diarahkan untuk dipindahkan ke Lubuk Pakam pada tahun 1891. Keputusan tersebut tidak diterima oleh Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah. Ia kemudian memilih Perbaungan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Serdang.

Perpindahan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Perbaungan. Salah satu penandanya adalah berdirinya Istana Darul Arif di Desa Kota Galuh, Perbaungan, yang kemudian diresmikan pada tahun 1896. Keberadaan istana tersebut memperlihatkan semakin pentingnya Perbaungan dalam kehidupan pemerintahan dan Kesultanan Serdang pada masa itu.

Masa Pemerintahan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah

Setelah Sultan Basyaruddin wafat pada 7 Muharram 1279 Hijriah atau sekitar tahun 1880 Masehi, tampuk pemerintahan kemudian diteruskan oleh putra tunggalnya, Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah.

Pengangkatan Sultan Sulaiman sebagai penerus Kesultanan Serdang sempat dipermasalahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Meski demikian, masa pemerintahannya menjadi salah satu periode penting dalam perkembangan wilayah Serdang dan Perbaungan. Sultan Sulaiman dikenal memberikan perhatian terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu pembangunan penting yang dilakukan adalah Serdang Kanaal.

Pembangunan Serdang Kanaal dan Pertanian

Serdang Kanaal dibangun dengan tujuan mengatur aliran air, mengeringkan daerah rawa, sekaligus membantu pengairan lahan pertanian masyarakat. Dengan pembangunan tersebut, lahan persawahan masyarakat yang luasnya mencapai sekitar 2.000 hektare dapat memperoleh manfaat pengairan yang lebih baik. Pembangunan ini turut mendukung kehidupan para petani di wilayah Serdang.

Perkembangan sektor pertanian kemudian membuat Serdang dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil padi di antara kesultanan Melayu lainnya di Sumatera Timur. Selain saluran air, berbagai fasilitas penting juga berkembang di Perbaungan. Istana Darul Arif, Masjid Raya Sulaimaniyah, kompleks pertokoan, serta pasar menjadi bagian dari perkembangan kawasan tersebut. Perbaungan kemudian dikenal dengan sebutan “Kota Simpang Tiga” atau “Bandar Setia”.

Berakhirnya Kesultanan Serdang

Perjalanan Kesultanan Serdang mengalami perubahan besar setelah terjadinya peristiwa sosial dan politik di Sumatera Timur pada tahun 1946. Peristiwa tersebut mengakhiri kekuasaan berbagai kerajaan dan kesultanan yang sebelumnya memiliki pengaruh di wilayah Sumatera Timur. Setelah Indonesia merdeka, wilayah-wilayah tersebut kemudian masuk ke dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia.

Dengan perubahan tersebut, berakhirlah masa Kesultanan Serdang sebagai sebuah pemerintahan kerajaan di Perbaungan.

Perbaungan di Masa Kini

Seiring berjalannya waktu, Perbaungan terus mengalami perkembangan. Kawasan yang dahulu menjadi bagian penting dari pemerintahan Kesultanan Serdang kini berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat di Kabupaten Serdang Bedagai. Perkembangan kota dapat dilihat dari semakin banyaknya fasilitas pelayanan masyarakat, bangunan, kawasan perdagangan, serta berbagai aktivitas ekonomi. Upaya menciptakan lingkungan kota yang bersih dan nyaman juga menjadi bagian dari perkembangan Perbaungan saat ini.

Meski mengalami modernisasi, jejak sejarah masa lalu masih menjadi bagian penting dari identitas Perbaungan. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah menjadi pengingat bahwa wilayah ini pernah memiliki hubungan erat dengan perjalanan Kesultanan Serdang.

Menikmati Kuliner Khas Perbaungan

Selain memiliki cerita sejarah yang menarik, Perbaungan juga menawarkan beragam pilihan kuliner yang patut dicoba. Berbagai makanan dengan harga yang relatif terjangkau dapat ditemukan di kawasan ini. Ragam kuliner tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengunjung yang datang ke Perbaungan.

Dengan perpaduan antara sejarah, perkembangan kota, dan kekayaan kuliner, Perbaungan memiliki karakter yang cukup unik. Kota ini tidak hanya menyimpan cerita tentang masa Kesultanan Serdang, tetapi juga terus berkembang mengikuti kehidupan masyarakat modern.

Kesimpulan

Sejarah Perbaungan memiliki hubungan erat dengan perjalanan Kesultanan Serdang sejak abad ke-18. Mulai dari berdirinya Kerajaan Perbaungan, hubungan perkawinan dengan Kesultanan Serdang, hingga perpindahan pusat pemerintahan ke wilayah ini, semuanya menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah daerah tersebut.

Kini Perbaungan telah berkembang menjadi kawasan perkotaan dengan berbagai fasilitas dan aktivitas masyarakat. Di tengah perkembangan tersebut, peninggalan sejarah tetap memiliki nilai penting sebagai pengingat perjalanan panjang Perbaungan dari masa kerajaan hingga menjadi bagian dari Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top